Berkunjung ke pondok salaf rasanya tetap mengesankan dan yang terpenting selalu menginspirasi. Bukan hanya kita, yang walaupun bukan manusia penting, keturunan kyai dsb, yang diperlakukan selayaknya tamu terhormat, tapi sungguh-sungguh akhlaq memuliakan tamu adalah yang utama.

Beda sekali dengan berkunjung ke pondok modern. Meskipun sama-sama ramah, tetapi hanya cukup memanusiakan tamu saja alias sewajarnya.

Keterpukauan kami dimulai bahkan ketika kendaraan kami baru tiba. Dengan sigap juru parkir yang juga petugas pondok mengarahkan posisi mobil kami agar tidak hanya rapi terparkir tapi juga bisa mudah untuk keluar parkir.

Baru keluar dari mobil, sudah ada petugas lain yang menanyakan asal kami agar dengan mudah bisa menunjukkan tempat duduk mana yang bisa kami tempati dengan nyaman. Itupun tak hanya satu petugas tapi beberapa petugas yang sangat telaten dan sopan.

Belum sempat kami duduk, santri lain yang menjadi pembuat minum sudah siaga di tempatnya. Membawa nampan berisi teh manis hangat yang nikmat yang siap dihidangkan ketika kami telah duduk dengan sempurna.

Menunduk, sopan ketika menjamu tamu juga mempersilakan dengan raut wajah menyenangkan rasanya tuh bener-bener nyess di hati.

Untuk ibu-ibu yang kerepotan membawa anak-anaknya juga disiapkan tempat untuk menidurkan anaknya.

 

 

 

Hari ini masih jam 10 pagi. Tapi mata ini rasanya udah mau jatuh aja.. Ngantuukkk beraatt..

Tapi lumayan lah anak-anak libur dan masih asyik bermain. Uminya bisa leyeh-leyeh sampil posting sedikit, meskipun project pesanan sudah menanti.

Jadi inget dulu saya jago banget tidur. Sampe2 kalau hari libur, seharian bisa dihabiskan untuk tidur. Bahkan sampe pusing karena kebanyakan tidur. Wah kalau inget ini jadi berasa menyesal. Kenapa g buat sesuatu yang lebih bermanfaat.

Biasanya orang tidur karena mengantuk yah kan.. Nah ketika badan lelah pasti otomatis akan mengantuk, tetapi jika tidak lelah (seperti kasus saya itu) tapi tubuh tetap bisa tidur. Lalu bagaimana?

 

Mendapatkan Uang dari Media Social

Kemajuan teknologi sudah tak bisa terbendung. Daerah yang paling terpencilpun sudah mulai terjamah sedikit demi sedikit. Apalagi yang tinggal di daerah perkotaan. Dari anak kecil sampai kakek nenek tak mau ketinggalan. “Anak kecil aja pegang hape!” begitu katanya.

Handphone atau telepon genggam bukan hanya sebagai alat untuk berkomunikasi, semakin majunya media informasi, membuat kebutuhan akan handphone semakin meningkat. Apalagi setelah adanya media social yang sangat majemuk.

Sekarang siapa yang tak kenal facebook, youtube, twitter instagram dan macam lainnya.

Sampai-sampai setiap orang tidak pernah lepas pandangannya dari handphonenya. Seakan dunia cuma seonggok HP.

Kebutuhan itu membuat orang berpikir cerdik untuk meraup untung dari penggunaan HP terutama media social. Menggiurkan dan terkesan mudah. Dengan memasang sedikut iklan sudah bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Bahkan ketika sudah memasuki tingkat profesional bisa sebagai mata pencaharian yang menjanjikan.

Tanpa kita sadari media social benar-benar menjadi ajang bermasyarakat tanpa bertatap muka. Tapi kita juga harus bijak dalam bersocial media. Jangan sampai fungai dan kegunaanya menggantikan arti bersosialisasi yang sesungguhnya.

Free Pattern – Cara Membuat Sepatu Bayi Rajut Mudah

Hallo.. Mbak-Mbak kece yang lagi bingung mau bikin sepatu rajut buat bayinya. Kebetulan, saya mau share haskar terakhir saya. Pesanan bunda Rista untuk temannya. Sebenarnya pesennya 1 set ya. Topo, diaper dan sepatunya. Tapi yang bisa saya buat tutorialnya bru sepatunya aja hihihi.. Mungkin lain kali ketika Allah mengijinkan pasti saya share tuh tutorialnya.

Langsung aja yah bund..  Tapi debelumnya minta maaf katrna tutorialnya versi english alias berbahasa inggris. Bukan karena begaya ato gimana ya bun, emang menurut sata mudah dituangkan falam bahasa inggris sie.. Tapi ya sutra lah.. Kalau ada yang perlu ditanyakan silahkan tinggalkan comment ya..

Videonya juga sudah saya buat lho bun silahkan berseluncur ke link ini : https://youtu.be/bVzhuTrXifA

Membahas soal nama, sepintas nama saya terlihat simpel dan indonesia sekali. Aryati Dewi Anggraeni. Tahu kan.. lagu nostalgia 90an yang berjudul Aryati, kalau nggak salah penyanyinya Broeri Marantika.. G tahu?? Oh brrti Anda termasuk dalam Era Milenium hehe…

Adil Sejak dalam Pikiran

Beberapa minggu lalu saya tertarik dengan postingan teman dengan hashtag “Adil Sejak dalam Pikiran”. Tahukah anda istilah itu?? Saya juga merasa baru mendengarnya dan merasa tertarik. Apa makna dibaliknya.

Seperti yang kita tahu, adil adalah suatu sikap yang tidak berat sebelah atau sama rata, tidak memihak dsb.

Menariknya Tehnik Planned Pooling

Benang sembur atau benang gradasi ternyata bisa juga dirajut untuk membentuk suatu pola. Tehnik ini dinamakan planned pooling. Awal mengenal tehnik ini ketika berseluncur di salah satu akun IG teman yang saya ikuti. Beliau memposting foto hasil jadi planned pooling. Tertarik, kemudian saya browsing dan mencari tahu sana sini apa dan bagaimana planned pooling itu. Dan makin kesini makin menyenangkan bermain dengan benang sembur.

Banyak tutorial untuk membuat planned pooling. Mungkin anda bisa langsung ubek-ubek video tutorial di youtube. Tapi percaya sama saya deh, kalau belum trial sendiri pasti susah untuk memahaminya.

Mungkin di posting berikutnya saya akan share cara membuat planned pooling versi saya. Yang jelas saya masih bukan ahlinya ya. Karena masih harus bongkar pasang setiap bikin PP ini. Tapi it’s okay, saya tetap berusaha untuk berbagi, berbagi dan berbagi. Stay tuned ya… ((^_^))

Semakin maju wanita semakin tinggi permintaan kesetaraan dengan pria. Tapi apa wanita tidak boleh memajukan dirinya?

Saya, ibu rumah tangga yang kata orang masih muda. Punya anak tiga, alhamdulillah lincah-lincah semua. Apakah saya pernah meminta hak akan kesetaraan dengan pria? Jawab, pernah. Dulu ketika awal-awal pernikahan, dimana saya yg masih belia-karena menikah umur 19 tahun lebih 6 bulan-sering meminta penghargaan pada suami. Ketika itu alasan saya harus menyelesaikan kuliah, sehingga suami terpaksa menyesuaikan jadwal kerjanya agar bisa mengasuh putri kami yang pertama. Kala itu memang belum ada dana untuk menyewa art. Dan kami tetap dalam pendirian untuk tidak minta-minta ke orang tua – kecuali dikasih ya..

Saya sering cemburu, ketika suami bertemu teman-temannya, pergi ke tempat bagus karena urusan bekerja, atau mendapat pengalaman baru yang bisa menambah wawasannya. Sedangkan saya harus menjaga anak di rumah. Seperti merasa terbodohkan kala itu. Dan marah, menangis adalah bentuk protes yang bisa saya tunjukkan ke suami.

Kasihan suami saya ketika saya berubah wujud ( baca frustasi ) karena perubahan status sosial yang tiba-tiba, maka dia harus menghentikan aktivitas bekerja, momong anak dan juga tentunya saya. Kadang dia marah juga dan membuat saya ketakutan karena perubahan saya terjadi di saat yang tidak tepat. Mungkin suami lelah dsb. Tapi sejauh ini suami sangat sabar dan mengayomi sekali.

Kala itu, saya ber ego untuk dihargai. Meminta untuk diberi hak mencari ilmu dan menggapai karir. Beruntung suami tetap mendukung dengan batasan saya tidak melupakan tugas saya sebagai ibu.

Seiring berjalannya waktu, bertambah pula pemikiran saya mengenai apa sebenarnya kesetaraan gender. Agak rumit memang kalau harus ditumpahkan ke dalam tulisan. Tapi semoga saya bisa menjelaskan pemikiran saya dengan baik.

Dimulai dari tugas dan kewajiban. Antara wanita dan pria apalagi dalam rumah tangga jelas berbeda dengan wanita dan pria yang masih lajang. Entah sudah berapa puluh kali suami saya mengingatkan akan kewajiban saya sebagai ibu dan seorang istri. Sangat membekas dan meneguhkan hati. Tugas dan kewajiban sebagai istri dan sekaligus ibu membuat saya semakin merasa berarti. Bahkan melebihi pencapaian karier saya. Bangga sekali ketika orang lain memuji masakan saya, memuji anak-anak saya yang terawat. Tapi yang jelas bukan itu tujuannya sekali lagi.

Masih ingat dengan kalimat ‘Istri adalah milik Suaminya, dan Suami adalah milik Ibunya’? Nampaknya itu adalah kunci kehidupan seorang wanita. Saya sebagai istri memiliki kewajiban untuk patuh dengan suami, sedangkan suami memiliki kewajiban penuh pada ibunya. Sehingga saya mengambil kesimpulan saya harus patuh dan berbakti yang terlebih kepada ibu mertua. Walaupun sebagaimana sulitnya menyesuaikan diri dengan mertua, namun ternyata itulah yang wajib dilakukan.

Menulis itu menyenangkan

Menulis itu seperti air dalam gelas. Jika gelasnya pecah, maka airnya pun akan berantakan. Tetapi jika airnya di tuang perlahan, maka akan mengalir tenang dan beraturan.

Begitu juga menulis. Jika hati dan pikiran kita sedang kalut maka tulisannya pun terkesan menggebu-gebu tetapi tidak teratur. Tetapi ketika kita menjaga mood ketika menulis maka hasil yang dituliskan pasti lebih rapi. Apa iya sih??

Coba kita bandingkan ya, tulisan ibu rumah tangga -contohnya saya saja- ketika dalam keadaan lelah, marah, sedih ataupun senang pasti akan berbeda. Silahkan cek postingan2 saya sebelumnya.. Hihihi.. Anda bisa menebak dalam suasana hati seperti apa di setiap postingan itu ( Jangan diketawain ya..).

Baru-baru ini sedang marak digalakkan komunitas ibu menulis. Macam-macam.. Dan setiap komunitas itu mempunyai concern sendiri-sendiri. Kalau saya sih nulis cuma untuk curhat saja. Nuangin segala unek-unek apalagi kalau nemu kamus kata baru atau ngalamin sesuatu. Ngga ada sangkut pautnya dengan mereka-mereka itu yang ngadain kopdar sana, seminar sini yang mungkin  menurut mereka sangat bermanfaat. Tapi bagi saya merepotkan. Gimana ngga coba? Saya punya buntut tiga, kalau pergi yang dua besar pasti ngikut. Nitipin si kecil juga harus milih waktu suami luang. Kalau ngga bisa di prengutin sayanya. Hehe..

Tapi yang terpenting, menulis itu jangan dijadikan trend saja. Harus diambil manfaatnya.

Apa sih manfaat menulis?

Saya belum baca mengenai penelitian tentang ibu-ibu menulis. Yang saya faham manfaat untuk ibu menulis adalah menstabilkan mood. Secara seorang ibu itu ya, dari bangun pagi sampai tidur lagi kegiatannya berjubel dan konstan. Belum anak-anak yang rewel, bikin kesel, ayahnya yang sibuk kerja ngga bisa ducurhatin (eh.. Saya malah curhat sendiri). Ya gitu itulah.. Saya kira semua ibu juga merasakan kecuali yang belum jadi ibu ya, atau udah kaya dari sononya jadi tinggal bayar pembantu atau babysitter ya sutralah..

Pasti dalam pikirannya ruwet juga, hatinya juga badmood juga pokoknya ngga karuan deh..

Nah kalau sudah diungkapkan baru plong. Tapi diungkapkan ke siapa ya? Ya dengan tulisan itu. Entah nantinya mau dibaca sendiri atau mau dipublikasikan terserah. Atau mau dikasihkan ke orang bisa. Itu hak setiap orang. Tapi kalau menurut saya jika tulisannya bersifat pribadi cukup disimpan saja. Karena takutnya bisa berdampak buruk. Piss..

Gimana cara menulis?

Itu terserah diri masing-masing aja. Kalau sesuai kaidah bahasa indonesia harus ada kerangkanya, judul, pendahuluan, isi, kesimpulan. Itu kan kalau untuk karya sastra ya atau ujian sekolah hihi..

Kalau saya apa yang ada di pikiran saya tulis. Entah urut atau tidak. Kadang judulnya dulu baru isinya, kadang sebaliknya. Kadang g nemu-nemu judulnya. Ya sudah saya biarkan kosong. Lha wong cuma curhatan koq. Saya kalau disuruh ngeles mah pinter euy..

Ibu kalau sudah menulis tuh rasanya kayak udah diajak keliling paris beli baju mahal ( wkwkwk.. Kayak udah pernah kesana aja). Agak lebay dikit sih. Tapi hati dan pikiran memang jadi lebih fresh dan siap kembali ke rutinitas lagi. Maka tak jarang ibu yang suka nulis lebih disayang suami katanya… Mungkin karena tidak pernah ngeluh ke suami lagi. Jadi kelihatannya happy teruss.. Yey..

Makanya bapak-bapak kalau liat istrinya kelihatan suntuk, langsung ambilkan secarik kertas dan sebuah bolpoint. Habis nulis terus dicium deh.. Dijamin langsung klepek-klepek. Hahaha..

Well, apa yang saya tulis barusan juga sebuah unek-unek setelah sehari badan kurang fit. Tapi alhamdulillah sudah dipijat sayang sama abinya anak-anak.

Ayo.. Ibu-ibu coba tulis aja. Apa aja boleh koq. Pokoknya mengarang bebas kayak di SD. yang penting senang. Thing.. Thing..

Semoga tulisan ini bermanfaat untuk para ibu-ibu yang jenuh di rumah. Kurang lebihnya saya minta maaf ya. Karena manusia itu tempat salah dan lupa. (Sok bijak).

Sampai jumpa dicurhatan berikutnya.. Bye bye.. Kiss bye..

((^_^))

 

Melepaskan Diri dari Iming-Iming Riba

Siapa yang nggak mau punya rumah sendiri? Apalagi orang yang sudah berkeluarga (punya anak pula). Mungkin satu atau dua tahun menikah enjoy aja lah jadi kontraktor. Tapi kalau seterusnya?

Saya dan suami juga. Beberapa tahun menjadi tupai, loncat sana loncat sini, pindah tempat tinggal. Barang2 yang g sedikit harus siap rusak karena ikut diusung-usung terus. Yang lebih kasihan anak-anak, walau mereka terlihat senang-senang saja.

Keinginan memiliki tempat tinggal sendiri sudah sangat menggebu, seperti orang yang sedang lapar. Berharap segera bisa mengisi perut yang kosong. Usaha?? Tentulah pasti. Dari mulai nabung recehan – yang akhirnya diambil jg untuk keperluan yang lain ((^_^)) – sampai mau mengajukan pinjaman. Orang tua juga pernah menawarkan untuk menalangi membeli rumah. Tapi akhirnya kami memang baru diiming-imingi sama Allah. Belum dalam taraf pantas untuk dititipi rumah.

Perasaan sedih itu pasti. Dan tentunya saya yang selalu ber-ide aneh agar bisa memiliki rumah. Terkadang sampai harus bersitegang dengan suami. Yang perlu diperjelas disini, suami saya itu anti minta-minta (termasuk ke orang tuanya sendiri) juga anti pinjam ke bank atau lembaga keuangan lainnya – alasannya karena takut riba.

Memang terlihat mudah, teman-teman kami yang sekarang sudah punya rumah, kantor juga berkehidupan mewah awalnya juga mengambil pinjaman di lembaga keuangan. Yaa.. Nggak semua sich. Ada juga yang karena dapat bantuan orang tuanya yang mampu (berduit, red.). Sedang kami alasan utama tidak meminta ke orang tua, karena takut terjadi kesenjangan dengan saudara.

Simple dan menggiurkan memang pinjaman di Bank (saya singkat bank untuk mewakili banyaknya lembaga keuangan). Tapi ketakutan kami atas ketidakberkahan harta itu juga cukup menghentikan niat kami untuk mengambil cicilan. Logisnya – menurut kata suami juga – kalau kita belum mampu kenapa harus memaksa memiliki. Bergayalah sesuai dengan kantong kita. Yah kurang lebih begitu. Walau sekarang banyak juga yang menawarkan embel-embel syar’i dalam akadnya. Tetap belum sreg.. gitu rasanya atuh.. (Bener ga sih kata-katanya? Hihihi..)

Sebenarnya saya sudah sering sekali berusaha meruntuhkan benteng prinsip suami. Astaghfirullah, syaitan apa yg menjerumuskan saya ini. Tapi syukur alhamdulillah suami kuat dan tetap menasehati saya yang akhirnya klepek2 menyadari kesalahan saya sendiri.

Siapa yang menjamin nanti setelah memiliki rumah dengan hasil meminjam bank itu rumah tangga menjadi tambah harmonis?? Tidak ada kan?? Yang ada malah hati tidak tenang karena dikejar-kejar cicilan. Kayak gitu ada? Banyyaaakkk… Apalagi Allah sudah mengingatkan kita akan bahaya riba.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130)

Perhatikan juga sabda Rasulullah yang menegaskan hal ini,

دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً

“Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba dosanya lebih besar dari pada berzina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dari Abdulloh bin Hanzholah dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih al Jami’, no. 3375)” [Nida-atur Rahman li Ahli Iman hal 41]

Ngerinya kalau membayangkan seberapa besar dosa riba. Itulah sebabnya kami lebih suka hidup apa adanya. Kalau memang ada ya ada. Kalau memang butuh sekali ya minta sama yang kasih rizqi. Kepepet ya pinjam orang tua hehe.. Yang bisa diangsur tanpa bunga wkwkwk..

Ada yang tahu arti keberkahan harta?? Saya sendiri juga belum faham sekali. Tapi yang jelas tanda-tanda rizqi yang barokah -menurut versi saya- itu suami istri rukun, anak-anak sehat dan pintar karena dicukupi kebutuhan lahir dan batinnya, rumah ceria, tabungan dan sedekah jalan, kebutuhan tercukupi (kebutuhan lho ya.. Bukan keinginan !), pokoknya bahagia deh.

Beda dengan rizqi yang nggak barokah, suami istri sering cekcok karena duit tiba2 habis, anak-anak sakit dan cari perhatian, rumah terlihat murung, boro-boro nabung mau beli kebutuhan aja rasanya berat, belum lagi cobaan rumah tangga yang lain. Eh.. Tapi bener koq. Kalau kita tidak memperhatikan sumber harta kita, maka keberkahan itu akan hilang dan terganti dengan cobaan atau kesusahan. Coba deh liat sekeliling kita. Berkaca untuk mengabil hikmah ya.. Jangan nambah dosa ghibah hihihi..

“Urip sakmadya” seperti suami bilang. Pilihlah jalan yang menurut kita aman, bukan yang terlihat enak dan mudah. Karena tak selamanya yang terlihat enak itu menyenangkan. Ibarat makan petai, mau makan enaknya tapi nggak mau baunya.

Semoga kita menjadi manusia yang bijaksana, selamat dari jeratan riba.

Sebagian dikutip dari http://www.muslim.or.id tentang riba jahiliyyah