Semakin maju wanita semakin tinggi permintaan kesetaraan dengan pria. Tapi apa wanita tidak boleh memajukan dirinya?

Saya, ibu rumah tangga yang kata orang masih muda. Punya anak tiga, alhamdulillah lincah-lincah semua. Apakah saya pernah meminta hak akan kesetaraan dengan pria? Jawab, pernah. Dulu ketika awal-awal pernikahan, dimana saya yg masih belia-karena menikah umur 19 tahun lebih 6 bulan-sering meminta penghargaan pada suami. Ketika itu alasan saya harus menyelesaikan kuliah, sehingga suami terpaksa menyesuaikan jadwal kerjanya agar bisa mengasuh putri kami yang pertama. Kala itu memang belum ada dana untuk menyewa art. Dan kami tetap dalam pendirian untuk tidak minta-minta ke orang tua – kecuali dikasih ya..

Saya sering cemburu, ketika suami bertemu teman-temannya, pergi ke tempat bagus karena urusan bekerja, atau mendapat pengalaman baru yang bisa menambah wawasannya. Sedangkan saya harus menjaga anak di rumah. Seperti merasa terbodohkan kala itu. Dan marah, menangis adalah bentuk protes yang bisa saya tunjukkan ke suami.

Kasihan suami saya ketika saya berubah wujud ( baca frustasi ) karena perubahan status sosial yang tiba-tiba, maka dia harus menghentikan aktivitas bekerja, momong anak dan juga tentunya saya. Kadang dia marah juga dan membuat saya ketakutan karena perubahan saya terjadi di saat yang tidak tepat. Mungkin suami lelah dsb. Tapi sejauh ini suami sangat sabar dan mengayomi sekali.

Kala itu, saya ber ego untuk dihargai. Meminta untuk diberi hak mencari ilmu dan menggapai karir. Beruntung suami tetap mendukung dengan batasan saya tidak melupakan tugas saya sebagai ibu.

Seiring berjalannya waktu, bertambah pula pemikiran saya mengenai apa sebenarnya kesetaraan gender. Agak rumit memang kalau harus ditumpahkan ke dalam tulisan. Tapi semoga saya bisa menjelaskan pemikiran saya dengan baik.

Dimulai dari tugas dan kewajiban. Antara wanita dan pria apalagi dalam rumah tangga jelas berbeda dengan wanita dan pria yang masih lajang. Entah sudah berapa puluh kali suami saya mengingatkan akan kewajiban saya sebagai ibu dan seorang istri. Sangat membekas dan meneguhkan hati. Tugas dan kewajiban sebagai istri dan sekaligus ibu membuat saya semakin merasa berarti. Bahkan melebihi pencapaian karier saya. Bangga sekali ketika orang lain memuji masakan saya, memuji anak-anak saya yang terawat. Tapi yang jelas bukan itu tujuannya sekali lagi.

Masih ingat dengan kalimat ‘Istri adalah milik Suaminya, dan Suami adalah milik Ibunya’? Nampaknya itu adalah kunci kehidupan seorang wanita. Saya sebagai istri memiliki kewajiban untuk patuh dengan suami, sedangkan suami memiliki kewajiban penuh pada ibunya. Sehingga saya mengambil kesimpulan saya harus patuh dan berbakti yang terlebih kepada ibu mertua. Walaupun sebagaimana sulitnya menyesuaikan diri dengan mertua, namun ternyata itulah yang wajib dilakukan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s