Melepaskan Diri dari Iming-Iming Riba

Siapa yang nggak mau punya rumah sendiri? Apalagi orang yang sudah berkeluarga (punya anak pula). Mungkin satu atau dua tahun menikah enjoy aja lah jadi kontraktor. Tapi kalau seterusnya?

Saya dan suami juga. Beberapa tahun menjadi tupai, loncat sana loncat sini, pindah tempat tinggal. Barang2 yang g sedikit harus siap rusak karena ikut diusung-usung terus. Yang lebih kasihan anak-anak, walau mereka terlihat senang-senang saja.

Keinginan memiliki tempat tinggal sendiri sudah sangat menggebu, seperti orang yang sedang lapar. Berharap segera bisa mengisi perut yang kosong. Usaha?? Tentulah pasti. Dari mulai nabung recehan – yang akhirnya diambil jg untuk keperluan yang lain ((^_^)) – sampai mau mengajukan pinjaman. Orang tua juga pernah menawarkan untuk menalangi membeli rumah. Tapi akhirnya kami memang baru diiming-imingi sama Allah. Belum dalam taraf pantas untuk dititipi rumah.

Perasaan sedih itu pasti. Dan tentunya saya yang selalu ber-ide aneh agar bisa memiliki rumah. Terkadang sampai harus bersitegang dengan suami. Yang perlu diperjelas disini, suami saya itu anti minta-minta (termasuk ke orang tuanya sendiri) juga anti pinjam ke bank atau lembaga keuangan lainnya – alasannya karena takut riba.

Memang terlihat mudah, teman-teman kami yang sekarang sudah punya rumah, kantor juga berkehidupan mewah awalnya juga mengambil pinjaman di lembaga keuangan. Yaa.. Nggak semua sich. Ada juga yang karena dapat bantuan orang tuanya yang mampu (berduit, red.). Sedang kami alasan utama tidak meminta ke orang tua, karena takut terjadi kesenjangan dengan saudara.

Simple dan menggiurkan memang pinjaman di Bank (saya singkat bank untuk mewakili banyaknya lembaga keuangan). Tapi ketakutan kami atas ketidakberkahan harta itu juga cukup menghentikan niat kami untuk mengambil cicilan. Logisnya – menurut kata suami juga – kalau kita belum mampu kenapa harus memaksa memiliki. Bergayalah sesuai dengan kantong kita. Yah kurang lebih begitu. Walau sekarang banyak juga yang menawarkan embel-embel syar’i dalam akadnya. Tetap belum sreg.. gitu rasanya atuh.. (Bener ga sih kata-katanya? Hihihi..)

Sebenarnya saya sudah sering sekali berusaha meruntuhkan benteng prinsip suami. Astaghfirullah, syaitan apa yg menjerumuskan saya ini. Tapi syukur alhamdulillah suami kuat dan tetap menasehati saya yang akhirnya klepek2 menyadari kesalahan saya sendiri.

Siapa yang menjamin nanti setelah memiliki rumah dengan hasil meminjam bank itu rumah tangga menjadi tambah harmonis?? Tidak ada kan?? Yang ada malah hati tidak tenang karena dikejar-kejar cicilan. Kayak gitu ada? Banyyaaakkk… Apalagi Allah sudah mengingatkan kita akan bahaya riba.

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ لاَ تَأْكُلُواْ الرِّبَا أَضْعَافاً مُّضَاعَفَةً وَاتَّقُواْ اللّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ . وَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan. Peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan untuk orang-orang yang kafir.” (Qs. Ali Imron [3]: 130)

Perhatikan juga sabda Rasulullah yang menegaskan hal ini,

دِرْهَمٌ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةٍ وَثَلَاثِينَ زَنْيَةً

“Satu dirham uang riba yang dimakan oleh seseorang dalam keadaan mengetahui bahwa itu adalah uang riba dosanya lebih besar dari pada berzina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dari Abdulloh bin Hanzholah dan dinilai shahih oleh Al Albani dalam Shahih al Jami’, no. 3375)” [Nida-atur Rahman li Ahli Iman hal 41]

Ngerinya kalau membayangkan seberapa besar dosa riba. Itulah sebabnya kami lebih suka hidup apa adanya. Kalau memang ada ya ada. Kalau memang butuh sekali ya minta sama yang kasih rizqi. Kepepet ya pinjam orang tua hehe.. Yang bisa diangsur tanpa bunga wkwkwk..

Ada yang tahu arti keberkahan harta?? Saya sendiri juga belum faham sekali. Tapi yang jelas tanda-tanda rizqi yang barokah -menurut versi saya- itu suami istri rukun, anak-anak sehat dan pintar karena dicukupi kebutuhan lahir dan batinnya, rumah ceria, tabungan dan sedekah jalan, kebutuhan tercukupi (kebutuhan lho ya.. Bukan keinginan !), pokoknya bahagia deh.

Beda dengan rizqi yang nggak barokah, suami istri sering cekcok karena duit tiba2 habis, anak-anak sakit dan cari perhatian, rumah terlihat murung, boro-boro nabung mau beli kebutuhan aja rasanya berat, belum lagi cobaan rumah tangga yang lain. Eh.. Tapi bener koq. Kalau kita tidak memperhatikan sumber harta kita, maka keberkahan itu akan hilang dan terganti dengan cobaan atau kesusahan. Coba deh liat sekeliling kita. Berkaca untuk mengabil hikmah ya.. Jangan nambah dosa ghibah hihihi..

“Urip sakmadya” seperti suami bilang. Pilihlah jalan yang menurut kita aman, bukan yang terlihat enak dan mudah. Karena tak selamanya yang terlihat enak itu menyenangkan. Ibarat makan petai, mau makan enaknya tapi nggak mau baunya.

Semoga kita menjadi manusia yang bijaksana, selamat dari jeratan riba.

Sebagian dikutip dari http://www.muslim.or.id tentang riba jahiliyyah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s